Hukum Kekekalan Rezeki! Mengungkap Misteri dibalik rezeki

Seperti hal nya dengan energi, Rezeki juga memiliki sifat yang sama, yaitu tidak bisa ditambah atau dikurangi, hanya bisa diubah bentuknya. Tidak bisa diciptakan ataupun dimusnahkan hanya bisa kita konversi pada bentuk - bentuk yang kita inginkan.

Maksudnya kekal disini adalah, bahwa rezeki itu sudah ditentukan besarnya sebelum seseorang itu lahir ke dunia. Allah SWT sudah menentukan kapan lahirnya, kapan meninggalnya, siapa jodohnya, dan seberapa banyak rezeki yang akan didapatkannya kelak saat seseorang itu hidup.Sehinga sekuat apapun kita berusaha untuk mengubah ketentuan rezeki kita, kita tidak akan mampu menambahkannya.

Banyak sekarang yang berpendapat, bahwa rezeki itu berbentuk mata uang yang ada di dunia, baik itu rupiah, dollar, euro atau lain sebagainya. Padahal bisa jadi, jatah yang diberikan Allah SWT kepada kita adalah dalam bentuk mata uang langit, mata uang dari Allah. dimana hanya Allah dan malaikatnya saja yang tahu bentuk dari rezeki tersebut.

Ilustrasinya seperti ini, bapa budi sudah diberi jatah oleh Allah sebesar 100 milyar Mata Uang langit untuk menunjang kehidupannya dari mulai lahir ke dunia sampai dengan meninggal dunia. Mau halal ataupun haram cara menjemput rezeki tersebut, pasti rezeki tersebut bakal terpenuhi, karena yakin itu sudah jatah dari Allah SWT.

Lalu jika kita bikin timeline hidupnya, dia bisa memilih kapan di akan menjemput rezekinya dan seberapa besar rezeki yang akan digunakannya. jadi kalau dia mau menikmati rezekinya itu dimaksimalkan di masa muda, mngkin pada saat masa tua, dia akan sengsara, ataupun sebaliknya, dia berjuang keras di masa muda, sehingga mendapatkan kenikmatan di masa tuanya. Dan mungkin juga Budi secara proporsional menjemput rezekinya stabil sepanjang hidupnya.

Rezekinya itu bisa dia konversi ke bentuk apapun yang dia inginkan, bisa dia konversi ke dalam bentuk harta, jabatan, kekuasaan, kepintaran, gelar pendidikan, keluarga yang baik, anak-anak yang soleh / solehah, istri yang solehah, ketenangan hidup, waktu luang, berpangku tangan, berdiam diri, menjadi pengangguran, dan lain sebagainya.

Misalkan Budi diberi jatah hidup 60 tahun di dunia. pada saat masa produktif, yaitu umur 20 tahun - 50 tahun dia hanya bekerja sekedarnya, yang penting ada pekerjaan, yang penting ada uang untuk makan dan kontrakan, sudah cukup. Dia Malas untuk berkreativitas, dia tidak mau ambil resiko untuk jadi sarjana S1, S2, ataupun S3 , dia tidak mau mencoba berbisnis, dia tidak mau pula bekerja keras, yang dia lakukan hanyalah bermalas - malasan, sehingga hasil berupa harta yang dia punya juga sedikit. Kalau menurut Hukum Kekelajn Rezeki, Budi bukan memiliki jatah rezeki yang sedikit, pada hukum ini yang berlaku adalah Harta < Rezeki, bukan Harta = Rezeki. Dia itu bukan rezekinya sedikit, sehingga harta yang dia dapatkan sepanjang hidupnya itu sedikit, tetapi karena ia telah mengkonversi rezekinya kepada kebersantaian dan kemalasan yang tak berujung, sehingga di masa tua nanti jatahnya sangat sedikit, dan malah menggantungkan hidupnya pada orang lain, tidak bisa menggunakan hasil susah payahnya di saat dia muda.

Satu hal yang kita harus yakini adalah, bahwa yakin rezeki yang telah dijathkan kepada kita itu sangat besar sekali, kita tidak usah ragu bahwa kita akan bisa menjadi orang kaya, orang berkuasa,orang pintar, atau pun memiliki jabatab yang terpandang, YAKINLAH pasti cukup! Tinggal kembali kepada diri kita sendiri, kita mau konversikan rezeki kita itu ke apa?!

Semuanya bergantung kepada kita sendiri, 
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” Q. S. [13] : 11

Jadi yang namanya jadi orang kaya, orang pintar, ataupun orang yang berkuasa itu harus diraih dengan kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas. Apapun kenikmatan yang kita ingin raih, kita harus berusaha. Jangan mau mengkonversikan Rezeki yang telah dijatah oleh dengan berpangku tangan dan bermalas - malasan. Memang itu adalah bagian dari kenikmatan yang diberikan Allah kepada kita, bagaimana kita akan berpangku tangan saja, menonton TV, melamun, tidur dalam waktu yang lama, bagia sebagian orang itu adalah kenikmatan tersendiri, dan bisa jadi itu adalah bentuk kita mengkonversi jatah rezeki kita.

Dengan hanya berdiam diri saja, maka kita akan merugi. Bagaimana tidak, salah satu kelebihan kita bekerja keras adalah pastinya kita akan bersinggungan dengan orang lain, dan kita bisa berkesempatan mendulang pahala yang besar dengan memberikan manfaat yang positif bagi orang lain, dan menjadi tabungan pahala kita di akhirat nanti. Selain tentunya, harta yang bisa kita dapatkan dari kerja keras kita tersebut, yang bisa kita manfaatkan untuk kepentingan kita sehari - hari.

“Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia. Adapun amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah membuat muslim yang lain bahagia, mengangkat kesusahan dari orang lain, membayarkan utangnya atau menghilangkan rasa laparnya.” (HR. Thabrani di dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 13280, 12: 453. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana disebutkan dalam Shahih Al Jaami’ no. 176).