Hukum Kekekalan Rezeki! Rezeki Seseorang Tidak Bisa DItambah Atau DIkurangi

Meneruskan tulisan kami sebelumnya, Rezeki yang diterima seseorang sudah ditentukan jauh sebelum seseorang itu lahir ke dunia, yaitu tertulis dalam Lauhul Mahfuz. Sehingga sekuat apapun kita mencoba ketentuan Allah yang sudah tertulis itu, kita takkan sanggup mengubahnya. Yang kita bisa lakukan adalah mengkonversi Rezeki yang ke dalam bentuk yang kita inginkan.

“Dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi di langit dan di bumi, melainkan (tercatat) dalam Kitab yang jelas (Lauhul Mahfuz)” (QS: An-Naml (27) :75)

“Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh mahfuz).. (Ar Ra’d, 13: 39)

Konsep yang paling mendasar adalah, bahwa bisa jadi jatah rezeki yang kita terima di dunia itu adalah dalam bentuk mata uang langit, Mata uang Allah SWT. Dimana seseorang bisa mengkonversinya kepada bentuk yang dia inginkan. Bisa dikonversi ke harta, jabatan, kedudukan, kekuasaan, kepintaran, gelar pendidikan, status sosial yang tinggi, ketenangan hati, jiwa yang tenteram, keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah, istrik yang solehah, anak-anak yang soleh solehah, dan lain sebagainya.

“Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rizki kalian, dan terdapat apa yang telah dijanjikan kepada kalian.” (Q.s. Adh-Dhâriyât: 22).

Konsep Hukum Kekekalan Rezeki ini sangat selaras dengan konsep ketaqwaan. Bahwa yang membedakan manusia di hadapan Allah SWT adalah ketaqwaan, bukan harta benda, kekuasaan atau lain sebagainya. Tinggi atau rendahnya derajat manusia di akhirat kelak diukur dari seberapa banyak pahala ibadah yang diraih ketika di dunia. 

Manusia tidak usah fokus pada bagaimana mendapat rezeki, karena rezeki SELALU dinikmati di setiap detik yang dia lalui. Oksigen yang kita hirup adalah bagian dari rezeki yang Allah berikan kepada kita. mau kita berdiam diri ataupun kita beraktivitas, kita sedang menikmati rezeki. Setiap pilihan yang kita ambil adalah bentuk dari cara kita akan mengkonversi rezeki yang telah ditentukan oleh Allah SWT.

Mau anda berdiam diri maupun anda keliling dunia sekalipun, rezeki anda tetap segitu. yang membedakan adalah ketika pilihan seseorang yang ingin mengkonversikan rezeki tersebut. Yang harus menjadi fokus seseorang adalah bagaimana waktu yang diberikan kepada manusia saat hidup dunia bisa dimanfaatkan untuk mencari pahala ibadah sebanyak - banyaknya.

Nabi Muhammad saw bersabda: “Wahai manusia, sesungguhnya ayahmu satu dan sesungguhnya ayahmu satu. Ketahuilah, tidak ada keunggulan orang Arab atas non-Arab, tidak pula non-Arab atas orang Arab, serta tidak pula orang berkulit hitam atas orang yang berkulit merah. Yang membedakan adalah taqwanya.” (HR. Ahmad).

Abu Hurayrah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada bentuk atau rupa kamu, juga tidak kepada harta benda kamu. Akan tetapi, Allah swt memandang kepada hati dan amal perbuatanmu semata.” (HR. Ibn Majah).